Monday, July 25, 2016

PENDAKIAN GUNUNG SUMBING (3371 mdpl)

Melalui Jalur Lama Desa Garung Wonosobo

(Puncak Gunung Sumbing dari puncak Gunung Sindoro, saat berkabut)
(Puncak Gunung Sumbing dari puncak Gunung Sindoro)
Sudah lama rasanya saya tidak menulis artikel di blog ini. Berbagai kesibukan dan aktifitas yang membuat saya tidak dapat meluangkan waktu untuk sedikit menulis artikel segar. Kali ini saya tidak akan membahas teknologi atau desain seperti yang sering saya bahas, saya akan sedikit bercerita mengenai side project atau pekerjaan sampingan saya selain dikantor, tentunya teman-teman tahu jika saya seorang pemandu gunung sejak belasan tahun yang lalu. Nah tidak perlu panjang lebar kali ini saya akan bercerita mengenai pengalaman saya yang cukup menyenangkan dan selalu berkesan untuk saya pribadi khususnya, yaitu pendakian Gunung Sumbing (3371 mdpl) melalui Desa Garung dan melalui jalur lama, jalur yang sama yang pernah saya lalui pada tahun 2000 dan 2002 sekitar 14-16 tahun yang lalu, cukup lama bukan.

(Widha dan Karebeth, 100 meter dari basecamp)
Pendakian kali ini saya tidak sedang dalam pekerjaan sebagai guide, melainkan pendakian bersama kedua adik saya, yaitu Widha dan Karebeth, keduanya masih menempuh pendidikan di Universitas dan SMA saat ini. Kebetulan kami semua sedang libur maka kami putuskan untuk naik gunung yang menjadi hobi keluarga kami secara turun temurun, dan terpilihlah Gunung Sumbing yang berada diantara perbatasan Temanggung, Wonosobo. Dengan ketinggian resmi mencapai 3371 mdpl (diluar puncak yang tidak boleh di daki) menjadikan gunung ini termasuk dalam gunung tertinggi di Jawa (3S, Semeru, Slamet, dan Sumbing) dan menjadi primadona para profesional pada masa saya :-) . Setelah persiapan yang matang, dengan mengepak semua perlengkapan dalam 3 buah carrier, dan ditambah 3 buah mantel/ponco karena perkiraan saya akan hujan di sana walaupun cuaca terlihat sangat cerah, kesimpulan ini saya ambil karena 1,5 bulan yang lalu saya juga melakukan pendakian ke Gunung Sindoro, yang sering dikatakan sebagai saudara kembar dan terjadi badai saat itu mulai dari basecamp kledung, hingga batu tatah, maka kami persiapkan itu. Dan setelah siap kami pun berangkat dari Boyolali ke Wonosobo dengan sepeda motor pada hari Senin tanggal 11 Juli 2016 Pukul 09.30 WIB.

Perjalanan ke-basecamp garung juga lumayan menyenangkan meskipun cukup jauh, karena kami mengambil jalur yang bisa dibilang juga melawati pegunungan yaitu Kopeng dan Grabag, jadi kami juga melewati basecamp Gunung Merbabu dan beberapa Basecamp Gunung Andong (Gunung yang menjadi primadona para pendaki kekinian :-D). Jalur yang berliku, naik turun, melewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra bersama teman berpetualang hey ninja hatori wkwkw membuat perjalanan kami tidak membosankan dan terasa cepat. Pukul 13.30 Wib maka sampailah kami dibasecamp, huu perjalanan yang panjang lagi menyenangkan. Sesampai di basecamp kami lihat sudah cukup banyak pendaki yang turun, karena kemungkinan mereka melakukan pendakian pada hari minggu sebelumnya.

Setelah melakukan regristrasi dan cukup istirahat, berganti baju tempur, dan mengisi perut dengan syomai rasa garam huekkk, akhirnya kami berangkat pada pukul 14.45 Wib dengan berjalan kaki, tanpa GoJek lho ya, kami survivor bukan wisatawan gunung, apalagi naik pesawat itu namanya piknik hehe. Perjalanan perlahan kami lalui dari mulai jalan ber-aspal kurang lebih 200m kemudian berubah menjadi jalan berbatu yang rapi hingga ujung desa Garung, disitu kita akan bertemu percabangan 3 jalur, jika lurus kita melalui jalur lama yang curam, sedangkan kanan/kiri melalui jalur baru yang digunakan oleh warga untuk akses ke ladang, cukup landai tapi lumayan jauh. Akhirnya kami putuskan melalui jalur lama karena lebih cepat, belum ada yang istimewa hingga sampai Pos 1 Malim pada pukul 16.15 Wib kecuali jalan setapak yang super menanjak. Kami istirahat sebentar, mengambil nafas dan re-packing ulang, Widha membeli sebungkus teh manis untuk bekal. Tidak beberapa lama akhirnya kami melanjutkan perjalanan pada pukul 16.30 Wib. Sebelum saya lanjutkan tulisan saya, saya akan menjelaskan bagaimana kami bisa melihat atau merasakan sesuatu yang diluar kemampuan orang umumnya, karena kami dianugerahi dengan penglihatan dan perasa yang melebihi orang pada umumnya sehingga kami bisa melihat beberapa hal yang mungkin orang lain tidak lihat (berkah dari para kakek nenek moyang kami) sejak lahir. Gunung Sumbing adalah gunung yang terkenal wingit dikalangan masyarakat, dan juga menurut saya selain Gunung Lawu, itu kenapa 2 gunung ini baru saya daki masing-masing 3 kali saja.
 
(Jalan berbatu jalur lama)
Oke kita lanjutkan saja ceritanya ya, tidak lebih dari 30 meter dari Pos 1 kami bertemu tikungan menanjak dan sedikit terkejut karena kami harus menghentikan langkah karena melihat sesosok makhluk(candy jumping J) yang sedang memainkan selembar daun disamping jalan, kurang lebih 5 meter didepan kami, ini membuat kami tersadar bahwa kami belum berdoa kepada Allah SWT untuk kemudahan dan keselamatan perjalanan kami. Akhirnya kami luangkan berdoa sejenak dan benar saja setelah kami berdoa makhluk itu sudah tidak ada. Dengan rasa syukur kami lanjutkan perjalanan tetapi lagi-lagi kurang dari 15 menit perjalanan kami harus menghentikan perjalanan, kali ini karena hujan mulai turun, itu mengharuskan kami memakai ponco demi menjaga suhu tubuh kami saat perjalanan. Tak terasa hari mulai gelap hampir masuk waktu magrib kami bertemu dengan rombongan pendaki kekinian yang mencoba untuk numpang cahaya senter kami, tapi tidak lama kami harus berhenti sholat magrib, suasana gelap dan sunyi karena sudah tidak ada pendaki lain selain kami bertiga membuat bulu kuduk sedikit berdiri, beberapa kali sekelebatan cahaya datang dan pergi (orbs) yang sebelumnya kami pikir kunang-kunang, menurut cerita warga itulah yang disebut peri gunung, hal itu juga yang membuat saya harus memejamkan mata saat sholat agar kyusuk. Setelah selesai sholat dan beristirahat kami lanjutkan perjalanan, hujan mulai deras, medan menjadi licin, memaksa kami mengambil jalur memasuki hutan di tepian jurang, membuat kami harus semakin waspada. Lagi-lagi insting kami yang sudah ada sejak lahir ini menangkap kejadian yang bertubi-tubi, yang sebelumnya saya mendengar suara nyanyian seorang perempuan, dan suara cengkrama muda-mudi kemudian tiba-tiba seperti ada seseorang jatuh dibelakang saya dengan suara gedebuuk yang cukup keras, saya terkejut, saya menoleh dan berhenti untuk mengetahui apa yang jatuh tapi nihil, tidak ada orang, kera, kayu atau apapun, cirikhas dari gundul pringis(setan kepala dalam bahasa jawa). Karena sudah merasa tidak terjadi apa-apa kami melanjutkan perjalanan dan tidak beberapa lama dengan beberapa tanjakan curam kami sampai di Pos II Genus pada pukul 19.00 Wib, terlihat dua buah tenda sudah berdiri dan rombongan pendaki kekinian yang numpang senter tadi juga sedang beristirahat.

Karena kami sudah beristirahat saat sholat magrib tadi kami memutuskan untuk tidak beristirahat dan melanjutkan perjalanan sambil mencari tempat sunyi untuk sholat isya’, tidak beberapa lama kami menemui tempat untuk sholat isya’, hujan dan sekelebatan cahaya lagi-lagi muncul dan bau harum mulai tercium, seperti yang di ceritakan warga sekitar saat kita melewati engkol-engkolan (belokan dan tanjakan curam) yang terdapat segerombolan pohon bambu hutannya, disitu kita harus waspada karena mbak sundel bolong siap menyambut. Tanpa mempedulikan itu kami terus melanjutkan perjalanan selesai sholat isya’, kami lega karena beberapa meter dari tempat kami ada 2 pendaki yang juga sedang merangkat menuju Pos III, dengan penuh semangat dan kehati-hatian akhirnya kami sampai di Pos III sedelupak roto pukul 21.30 Wib, diatasnya sudah terdapat beberapa tenda dan sangat ramai oleh pendaki dari luar kota, karena semua berbahasa Indonesia, karena kalau pendaki dari wonosobo biasanya selalu menyapa kami dengan bahasa jawa. Di Pos III tiga kami beristirahat sejenak untuk mencari lokasi tenda yang cocok tapi ternyata kami tidak menemukan tempat yang nyaman terpaksa kami paksakan untuk melanjutkan perjalanan sedikit keatas kurang lebih 100m menuju arah pasar setan, dan kami menemukan tempat nyaman untuk mendirikan tenda, lokasi yang hanya cukup untuk tenda kami, di lereng menuju pasar setan dengan pemandangan langsung lampu kota wonosobo. Setelah mendirikan tenda kami lengkapi dengan flysheet karena sepertinya badai akan terus menemani kami, kemudian kami masuk berganti pakaian kering, memasak air dan mie untuk pengganjal perut dan kemudian istirahat untuk melanjutkan perjalanan esok hari.
 
(Pasar Setan, dengan background Sindoro)
Tak terasa alarm dari jam tangan saya berbunyi nnyaring menunjukkan pukul 04.00 Wib, saatnya bangun sholat subuh dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan kepuncak. Tetapi apalah dikata kedua adik saya masih nyenyak tidur dengan sleeping bag masing-masing, membuat saya ikut kembali tidur hingga kami semua terbangun pada pukul 05.30. Setelah sholat subuh kami mencoba keluar dan cahaya sunrise terlihat dari balik tebing tempat kami mendirikan tenda, tidak masalah sunrise bukanlah tujuan kami. Setelah memasak nasi, menggoreng telur untuk sarapan akhirnya kami lanjutkan perjalanan pada pukul 07.15 Wib pada hari selasa tentunya. Dibawah pasar setan kami melihat banyak tenda di hutan terakhir, hal ini cukup melegakan bagi kami berarti banyak teman sesama pendaki di atas. Perlahan tapi pasti kami sampai di Pasar Setan pukul 08.00 Wib, kami istirahat sejenak, berfoto-foto di bibir tebing Lembah Setan (sebutan padang sabana oleh para pendaki senior). Pukul 09.15 Wib kami sampai pasar batu, track terus menanjak dengan sesekali berbatu dengan sabana disamping kanan kiri kami, disini tempat para kuntilanak berkumpul begitu kata warga, tetapi kami tidak peduli karena juga tidak menemukan hal yang aneh. 
 
(Gunung Sindoro dari pasar setan)
Kami terus melaju hingga sampai Batu Kotak pukul 10.20 Wib, kami berhenti sejenak dimulut goa yang sepi sambil menghabiskan kacang kulit merek elang sakti wkwkwk. Setelah selesai beristirahat kami lanjutkan perjalanan hingga sampai tanah putih dengan track mirip sekali dengan track berbatu Gunung Merapi, semakin curam cirikhas sudah mendekati puncak. Dan akhirnya kami sampai pada papan petunjuk menuju puncak, kami putuskan untuk menuju puncak kawah, puncak sejati dengan ketinggian resmi 3371 mdpl, dan akhirnya kami sampai puncak dengan susah payah setelah mendaki tebing berbatu, syukur alhamdulillah.

20 Menit kami habiskan dipuncak untuk menikmati suasana panas puncak sumbing, mengambil beberapa foto sebagai kenangan dan setelah puas akhirnya kamipun turun kembali ketenda, dalam perjalanan kami bertemu banyak pendaki yang baru saja sampai dan sedang mendirikan tenda, kami pun saling bertegur sapa, menurut salah satu dari orang yang saya ternyata mereka mahasiswa pecinta alam baru yang sedang liburan kuliah dari salah satu universitas swasta jakarta. Karena  memang biasanya turun membutuhkan waktu yang cukup singkat maka kurang dari 2 jam kami sudah sampai tenda. Kami bersih-bersih, istirahat dan mulai packing untuk segera turun sebelum badai lagi karena lagi-lagi cuaca mulai gelap. Setelah melipat tenda dan memastikan tidak barang dan sampah tertinggal kami menyempatkan sholat ashar terlebih dahulu agar mendapatkan ketenangan dalam perjalanan turun nanti. Pukul 17.15 Wib kami mulai melakukan perjalanan turun, melewati pos III sedelupak roto dengan beberapa tenda yang mulai memadati area camp, beberapa pendaki kecil juga terlihat sedang istirahat.
(Kawah Mati Gunung Sumbing)
Kami terus turun dan mendapati jalan yang kami lalui semalam ternyata terlihat begitu ekstrem jika dilakukan saat gelap dan hujan, tapi alhamdulillah semalam kami tidak mendapatkan kendala berarti, itu pasti karena Dia Yang Maha Penunjuk Jalan. Kami terus turun saat waktu magrib sudah menyapa, sudah terdengar suara adzan di tempat kami mulai turun, dan kamipun memutuskan untuk istirahat sejenak dan melakukan sholat magrib, sambil menunggu waktu magrib berlalu, selesai sholat kami lanjutkan perjalanan. Gelap dan hujan membuat jalan setapak yang kami lalui menjadi licin dan berbahaya, memaksa kami untuk ekstra hati-hati agar tidak tergelincir dan terjatuh, beberapa kali kami harus mendengar suara tangisan perempuan disamping kanan, dari arah jurang, beberapa kali juga kami harus bertemu sesosok perempuan berpakaian putih dan berambut panjang sebelum kami bertemu pendaki lain di pos II genus yang sedang istirahat, itu pendaki lain yang kami temui terakhir dari pos II, selanjutnya kami turun melalui jalur hutan ditepian jurang yang relatif sepi dan memaksa kami sedikit menunduk untuk menghindari ranting-ranting yang rendah, beberapa ranting berhasil merobek rain coverbag saya. Namun itu tidak menjadi masalah saat kami melihat cahaya lampu pos ojek di pos I dan mulai mendengar sayup-sayup cengkrama pendaki yang sedang membeli makanan di warung, dan setelah beberapa saat kami sampai di pos I dengan selamat sehat sentausa Alhamdulillah, dan selesailah nostalgia saya di gunung sumbing 16 tahun yang lalu, dan jadilah ini puncak ke-61 saya(yang tercatat) yang istimewa sejak tahun 1998 akhir dimana saya mulai mengawali karir sebagai pemandu gunung pemula bersama beberapa kakak kelas saya.

Alhamdulillah akhirnya kamipun sampai di basecamp pukul 21.50 Wib dengan selamat tanpa ada cedera dan masalah. Dan inilah perjalanan kami saat mencoba menaklukkan Gunung Sumbing yang gagah, kerendahan hati menjauhi sikap sombong dan selalu berserah diri pada Allah lah yang membuat kami selalu gembira dengan kondisi bagaimanapun. Akhirnya sampai juga di akhir cerita, sebenarnya banyak kisah dari pendakian saya yang jika diceritakan akan membutuhkan waktu yang lama, tetapi biarlah saya simpan dan saya jadikan kenangan abadi dihati saya, apakah keturunan saya Mikhaela juga akan mewarisi hobi ayah ibunya yang sederhana ini atau tidak, ya kita tunggu saja ya kawan-kawan. Terimakasih

:-)

tag : artikel, gunung, sumbing, gremet adventure, wonosobo, boyolali

Seja o primeiro a comentar

Post a Comment

free counters

Followers

About Me

My photo
A Network engineer, veteran mountaineer, hiking enthusiast
Powered By Blogger

Software and Download ©Template Blogger Green by Aryudha.

TOPO