Thursday, November 1, 2018

NAPAK TILAS GUNUNG MERAPI VIA SAPUANGIN (DELES)

Pendakian Gunung Merapi (2930 mdpl/2010) Via Deles Indah Klaten

Pagi hari pada musim penghujan terakhir di kota Boyolali lokasi basecamp Gremet Adventure tanggal 28 Desember 2017, tepat hari kamis malam jum'at cuaca mendung begitu sendu. Niatan saya untuk napak tilas pendakian Gunung Merapi melalui jalur sapuangin (jalur lama yang secara resmi baru diperkenalkan dan dilegalkan bulan April 2017) semakin mantap karena kedua adik saya Widha dan Ebeth ikut serta, ditambah Kholil teman adik saya. Berbekal pengalaman yang sudah lama pernah lewat jalur itu saya hanya mengatakan kepada mereka bahwa jalur ini sangat panjang dan tidak familiar digunakan, karena hanya beberapa pendaki expert yang bersedia melalui jalur ini. Terbukti selama 1 bulan itu hanya kami berempat yang Naik-Turun (jalur yang digunakan untuk naik atau turun saja, bukan keduanya) lewat jalur ini.
Persiapan berangkat

Berkumpul di basecamp Gremet kami persiapkan logistik yang cukup banyak mengingat yang saya tahu akan sulit mencari sumber air di jalur ini. Pukul 11.00 WIB kami berangkat naik sepeda motor ke basecamp sapuangin yang sebenarnya tidak begitu jauh karena hanya membutuhkan kurang lebih 1 jam perjalanan. Tiba di basecamp pukul 12.15 WIB kami disambut beberapa kawan petugas basecamp yang ramah dan mempersilahkan kami masuk untuk beristirahat didalam. Diluar cukup ramai para mapala dari berbagai Universitas di Yogyakarta yang sedang mengadakan DIKSAR di camping ground sapuangin. Menurut para petugas basecamp DIKSAR hanya diperbolehkan maksimal sampai POS 1 karena memang kondisi lingkungan yang masih sangat asri atau bisa dikatakan hutan lebat hingga bisa sangat berbahaya jika kurang hati-hati.

Setelah beristirahat dan mengganti pakaian kami selesaikan regristrasi pendakian, total retribusi untuk /orang Rp. 44.000,- cukup mahal ? tidak menurut kami karena memang dibutuhkan asuransi yang pasti untuk pendakian melalui jalur ini. Selesai regristrasi dan sedikit mengobrol dengan pemilik basecamp untuk mengetahui cuaca akhir-akhir ini yang ternyata cukup "terkejut" mengetahui jika kami akan naik - turun melalui jalur ini, sedangkan jalur ini dijuluki one way ticket karena memang cukup menguras stamina dan waktu, hal itu terbukti 1 minggu setelah kami melalui jalur ini, ada ekpedisi Jejak Petualang dari Trans 7 meng-eksplore jalur ini membutuhkan waktu kurang lebih 7 hari, tetapi saya yakin mereka tidak hanya sebatas pendakian, tetapi juga observasi. 
Jalur ke rumput warga
Monyet-monyet dan ayam hutan, tidak jelas ?
Pukul 13.00 WIB kami memutuskan memulai pendakian dengan asumsi kami bisa mencapai Pos 1 pukul 14.00 WIB untuk sholat dzuhur disana. Karena basecamp sudah terletak diantara hutam maka jalur pertama yang kami temui merupakan hutan pohon sengon dengan tanaman rumput gajah sebagai pakan ternak milik warga di sepanjang jalur kami. Sekumpulan monyet dan ayam hutan memandangi kami  seolah-olah mengantar keberangkatan kami. Dua ratus meter dari basecamp jalur pendakian sudah mulai menguras tenaga tetapi masih bisa ditolelir oleh stamina kami. Berbekal pesan dari kawan-kawan petugas dari basecamp bahwa karena jalur jarang dilalui maka kami di ingatkan untuk mengikuti tanda saja berupa pipa paralon sebagai tanda jalur yang benar setiap 100 m, celakanya 30 menit perjalanan kami jalur tertutup karena 2 pohon tumbang, kami mencoba menaiki pohon tersebut namun kami tidak menemukan tanda paralon. Cukup lama kami berhenti untuk berdiskusi akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan mengandalkan pembacaan matahari dan lumut. Beruntung tidak lama kami tembus kembali kejalur yang semestinya. 
Pos 1, diphotoin pohon
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB tetapi kami belum sampai di Pos 1 dan akhirnya kami  memutuskan berhenti untuk sholat dzuhur di ujung bukit (kami tidak tahu jika 20 meter dari situ Pos 1) yang dikelilingi pohon besar, dan tanaman jahe putih disekitarnya. Selesai beristirahat kami melanjutkan perjalanan, jalur sempat menurun setelah kami melewati Pos 1 tetapi tidak beberapa lama jalur kembali menanjak dengan semak yang semakin perdu (60cm-150cm rumput hingga dada orang dewasa) sehingga jalur benar-benar tertutup. Karena waktu menunjukkan semakin sore kami sedikit agak ngebut juga jadinya karena kami menargetkan sebelum pukul 21.00 WIB harus sudah sampai pasar bubrah. Setelah melewati beberapa semak perdu akhirnya kami menanjak cukup ekstrem dan harus merangkak melewati akar-akar pohon yang menjuntai dari pohon satu ke pohon yang lain, tidak beberapa lama kami sampi di Pos 2. Pos yang tidak terlalu luas dimana disebelah kiri jurang kali Adem yang dalam. Kami istirahat sebentar dan sholat Ashar disitu, sambil bercanda "kalo ini lewat Selo kita udah sampai basecamp lagi ya haha" begitu canda adik saya, karena memang waktu sudah menunjukkan pukul 16.40 WIB biasa jika melalui Selo kami hanya membutuhkan kurang lebih 2-3 jam sampai pasar bubrah. Kabut mulai turun cuaca semakin redup dan kami masih bercelana pendek dan kaos oblong.
Kabut hampir turuu di jalur itu ayo cepetan
Pakis dan Edelweis Raksasa
Sebelum gelap kami melanjutkan perjalanan, semakin redup tetapi masih bisa terlihat oleh mata, kanan dan kiri sudah jurang sekarang memang jalur ini sebenarnya adalah jalur yang terkenal dengan julukan bukit 7 yaitu ada 7 kali menuruni bukit dan 7 kali menaiki bukit, tidak seperti gunung yang lain yang biasanya jalur dibuat melingkar dipunggungan. Cukup lama kami menanjak dengan beberapa kali kami harus dibantu dengan tali pengaman (Trans 7 menggunakan SRT), akhirnya kami sampai di Camp Yoyok, bukit kecil yang asri dengan pohon cantigi disekelilingnya, atau tempat singgah sebelum Pos 3. Dimulai disini rombongan kami terpisah jadi dua saya dengan adik perempuan saya, sedangkan ebeth dengan kholil. Berjarak cukup jauh kurang lebih 20 menit mereka didepan kami karena kami memang ingin banyak mengatur napas yang sudah mulai lemas haha. Menaiki bukit yang cukup terjal tanpa pijakan kokoh kami melihat sangat kecil posisi adik saya, namun kami masih santai. Tidak berselang lama akhirnya kami bertemu lagi di Pos 3 tepat sayup-sayup terdengar suara Adzan Magrib, dan adik saya Ebeth bilang "Mas sandal gunung saya putus, pinjam sandal cadanganmu !" ya menurut hemat saya untuk melalui jalur ini dimusim penghujan seperti ini sebaiknya menggunakan Sepatu gunung dengan Grip tipe X (tersedia di Gremet Adventure) haha. 
Jalur di lereng tebing, hati-hati !
Jalur naik turun bukit, kanan kiri jurang
Vegetasi hutan purba yang lembab
Adik saya sudah tidak menggunakan alas kaki di Pos 4
Watu Bolong (Batu Berlubang) Pos 4
Persimpangan

Selesai sholat kami sedikit makan nasi dan ayam goreng kentaki yang kami bawa tadi, cukup untuk mengganjal perut untuk persiapan perjalanan gelap dengan gerimis yang sedikit membasahi tubuh kami. Tidak beberapa lama kami melanjutkan kembali perjalanan, beberapa kali kami harus menanjak hingga ke tebing berbatu, kemudian menuruni bukit berbatu cukup dalam di malam yang benar-benar gelap (persiapan senter kami kurang) dan akhirnya kami sampai di Pos 4 yang letaknya dibawah Watu Bolong, bukit batu besar dengan rongga. Disini persimpangan 2 jalur jika ke kiri kita akan sampai ke bungker di Kaliurang (seingat saya) jika kekanan maka akan terus sampai batas vegetasi atau Batu Kluyur sebelum Pasar Bubrah. Kami ambil jalur kekanan dimana jalur semakin lebat dengan pohon-pohon edelweis dan pakis raksasa yang tingginya bisa mencapai 4-5 meter dan kanan kiri jurang, dan kurang lebih pukul 19. 00 WIB kami sampai ke batas vegetasi. Disini adik perempuan saya sudah pada puncak letih staminanya mulai mual dan menangis, juga menggigil karena pakaiannya basah kuyup. Sedangkan saya sudah mulai kelaparan, kelaparan yang akut sehingga membuat asam lambung saya keluar bersama saat meludah, pahit tapi masih bisa ditolelir. Kami suruh adik perempuan saya mengganti jaket dan memaksanya untuk melanjutkan perjalanan, karena benar-benar sedikit lagi dan jika stay di lereng batas vegetasi ini terlalu berbahaya dengan angin yang cukup kencang setiap saat. Tidak berapa lama kami sampai puncak selatan (tugu selatan) gunung merapi atau tepat di hadapan lubang lava gunung merapi. Kami harus menuruni bukit lagi untuk sampai ke pasar bubrah. Tertatih-tatih adik saya Ebeth membantu kakaknya menuruni bukit sedangkan Kholis kami tugaskan mencari tempat landai segera untuk memudahkan kami mendirikan tenda, saya menyusul dan akhirnya kami sampai di pasar bubrah kurang lebih pukul 22.00 WIB setelah lama tertunda untuk pemulihan kami dilereng batas vegetasi tadi. 
Puncak G. Merapi dari Puncak Tugu Selatan
Terlihat Pasar Bubrah dari Puncak Tugu Selatan
Jalur G. Merapi via Selo terlihat kecil, Backgroun G. Merbabu

Kami mendirikan tenda, mengganti pakaian, makan malam hangat, mengobrol sebentar dan kemudian beristirahat, karena malam semakin sunyi karena memang saat itu hanya 2 tenda kami dan 1 tenda orang lain, mempersiapkan stamina untuk summit dan turun besuk pagi. Perjalanan yang sulit ? tidak, perjalanan yang asik karena dari awal kami benar-benar di alam tanpa sampah, tanpa orang lain, sunyi, tanpa candaan berlebih. Kami bahagia, summit pada paginya dan sedikit kelakar adik saya "aku disini aja, tolong panggilin hellicopter aja buat jemput !" wkwkwk kami tertawa lepas sebelum kami akhirnya turun pada pukul 09.00 WIB dan sampai di basecamp pada pukul 16.55 WIB disambut banyak petugas basecamp yang terheran-heran karena kami memang nekat naik turun di jalur one way ticket ini. Sambil beristirahat kami juga menanyakan kepada petugas regristrasi "apakah ada pendaki lain sebelum kami berangkat kemarin ?, karena kami melihat dengan jelas jejak trekking pole dan beberapa kali kami melihat pendaki itu didepan kami, tapi kami tidak menemukan dia", jawaban mengejutkan kami dapat "tidak mas, rombongan sampeyan saja yang naik bulan ini, dan ada ini 2 orang yang mau naik tetapi ditunda besuk karena hujan seperti itu". Cukup terkejut tetapi kami sudah biasa, bersyukur kami diberi petunjuk jalan sehingga kami sampai tujuan dengan selamat dan sehat hingga pulang kerumah lagi. 
Perjalanan pulang kembali melalui jalur Sapuangin

Itu merupakan perjalanan terakhir kami ke Gunung Merapi sebelum Erupsi kembali Pada bulan Juli 2018 yang lalu, meskipun Freatik tetapi terdapat kubah lava yang semakin membesar dan membuat merapi ditutup sampai sekarang.

Salam hangat,

Gremet Adventure

Petualangan Pendakian Gunung Merapi Mendaki Other

Followers

About Me

My photo
A Network engineer, veteran mountaineer, hiking enthusiast

Software and Download ©Template Blogger Green by Aryudha.

TOPO